Recent Comments

Sebuah Catatan Tentang Kearifan Lokal



oleh Arif Nur Setiawan, 1006699745 

Judul: “Tentang Kearifan Lokal”
Pembicara: Prof. Dr. Agus Aris Munandar, M.Hum
Data Publikasi: Kuliah Umum Kebudayaan Indonesia, Auditorium Gedung I, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, tanggal 15 September 2011 pukul 08.00 – 10.50 WIB.

Dalam pengertian kamus, local wisdom 'kearifan lokal' terdiri dari dua kata, yaitu: wisdom 'kearifan' dan local 'lokal'. Di dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom atau kearifan hampir semakna dengan kebijaksanaan. Secara umum, local wisdom atau kearifan setempat dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik dan luhur, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Bila kita melihat dari disiplin antropologi, maka dikenal istilah local genius. Konsep yang dikemukakan oleh H.G. Quaritch Wales ini, pada dasarnya menjelaskan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah mempunyai: “seperangkat karakter kebudayaan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat akibat dari pengalaman kehidupannya selama ini”.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kajian Kebudayaan Indonesia. (1) telaah tentang akar budaya penduduk kepulauan Nusantara; (2) inti-inti kebudayaan Nusantara; (3) pengaruh kebudayaan luar yang datang; (4) adanya pita merah dalam aspek kebudayaan, dengan kata lain, ada kesinambungan dari alur waktu, dulu hingga sekarang ini; (5) pilihan data budaya yang beragam, sehingga memerlukan kajian-kajian yang heterogen pula. Beberapa hal yang perlu digarisbawahi mengenai pemahaman kearifan lokal, yaitu:
1.      berawal dari masa prasejarah di Indonesia;
2.      kearifan lokal semakin nyata ketika ada pengaruh asing;
3.      kearifan lokal senantiasa bersifat positif;
4.      kearifan lokal dapat terjadi di berbagai tempat di Indonesia;
5.      kearifan lokal tumbuh bersama masyarakat;
6.      kearifan lokal berkenaan dengan berbagai aspek kebudayaan.
Pada dasarnya, kearifan lokal bersifat sebagai pedoman dalam berperilaku, seperti halnya mencegah perbuatan yang tidak baik secara norma adat, dan membantu dalam melakukan aktivitas. Kearifan lokal dapat terbentuk dengan adanya prinsip-prinsip yang mendasarinya, yaitu: berlangsung dalam sejarah yang cukup panjang, tumbuh secara positif atau ada manfaatnya dan secara sadar kemudian dilestarikan. Kearifan lokal dalam ragamnya dapat dibedakan jenis-jenisnya, antara lain: pertanian, etika sopan santun pergaulan, kesenian, mata pencaharian hidup, kesehatan dan obat, hidup berumah tangga dan bermasyarakat, dan pemerintah.
Local genius kebudayaan mempunyai dua elemen. (1) segala nilai, konsep dan teknologi yang telah dimiliki oleh suatu bangsa sebelum mendapat pengaruh asing; (2) daya yang dimiliki suatu bangsa untuk menyerap, menafsirkan, mengubah dan mencipta, sepanjang terjadinya pengaruh asing. Ketika sebelum datangnya pengaruh asing, penduduk Nusantara dalam masa prasejarah telah mempunyai sepuluh kepandaian, antara lain:
1.      telah dapat membuat figur boneka (J.L.A Brandes);
2.      mengembangkan seni hias;
3.      mengenal pengecoran logam;
4.      melaksanakan perdagangan barter;
5.      mengenal instrumen musik, seperti contohnya kentongan;
6.      memahami astronomi;
7.      menguasai teknik navigasi dan pelayaran;
8.      menggunakan tradisi lisan dalam menyampaikan ilmu pengetahuan;
9.      menguasai teknik irigasi dan pertanian;
10.  telah mengenal tata masyarakat yang teratur.
Dalam hal kesinambungan budaya, dapat dibedakan jenis-jenisnya. (1) disadari sebagai anasir kebudayaan penting yang harus dipertahankan; (2) tidak disadari, melainkan terus diminati tanpa disadari oleh pendukung kebudayaan, oleh karena itu terjadi keseimbangan yang tidak formal; (3) terdapat juga keseimbangan yang disadari dan diajarkan. Beberapa hal yang mendasari terbentuknya kebhinekaan adalah faktor lingkungan alam tempat hidup etnik-etnik yang beraneka ragam, jarangnya komunikasi antar etnik di masa silam, tiap etnik mengalami perbedaan akulturasi dengan budaya luar, perbedaan sejarah politik, dan terdapat perbedaan pendalaman agama yang dominan dianut oleh masyarakat etnik.
Dewasa ini, banyak isu-isu yang beredar di masyarakat, khususnya mengenai karakter bangsa dan pekerti bangsa. (1) bangsa Indonesia mempunyai agenda permasalahan yang banyak; (2) banyak anggota masyarakat yang telah berpaling dari kebudayaan tradisi warisan nenek moyangnya; (3) bentuk karakter dan pekerti bangsa itu sejatinya tertimpa dalam kearifan lokal Nusantara; (4) budaya global yang terus menerjang masuk tanpa ditahan. Dalam menyikapinya, diperlukan karakter dan pekerti bangsa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat bangsa, dan kearifan lokal yang selaras dengan perkembangan zaman. Secara umum, abstraksi karakter dan pekerti bangsa Indonesia adalah sebagai berikut: (1) dari sumber nilai, nilai adat bersumber kepada nilai-nilai agama; (2) nilai dasar hidup yaitu malu, dan tidak boleh dipermalukan; (3) tertib sosial, mengacu pada keseimbangan dan harmonis; (4) hubungan dengan orang lain yaitu, tenggang rasa dan simpati; (5) hubungan dengan sistem sosial yaitu, adaptif, tahu diri, pandai menempatkan diri; (6) kehormatan diri yaitu, menjaga harga diri, tidak berlebihan sesuai martabatnya; (7) kepemimpinan yaitu, panutan dan keteladanan; (8) etos kerja yaitu, kerja keras dan kreatif; (9) sikap terhadap kelompok yaitu, ada orientasi kepada komunitas keseluruhan. Dengan menjaga dan terus dijadikan sebagai pedoman hidup, karakter dan pekerti bangsa yang telah disebutkan di atas, maka cita-cita bangsa Indonesia akan dapat terwujud.

Instagramku