Recent Comments

Obat "Zaman Edan"


oleh Arif Nur Setiawan, 1006699745

Indonesia, negara yang mempunyai sumber daya alam yang berlimpah-ruah. Ditambah berjuta warisan budaya yang membalutnya, seakan memberikan warna yang gemerlap di negeri ini. Akan tetapi, sekarang ini tampaknya telah memasuki “zaman edan”, yang menurut perkataan Ronggowarsito sebagai zaman edan atau zaman kena pakewuh – negara kehilangan wibawa, pemimpin kehilangan etika, masyarakat kehilangan pranata dan alam pun selalu menghadiahi bencana.
Dalam dunia pewayangan, dikenal dengan istilah “zaman kalabendu” yang artinya zaman yang penuh dengan kekacauan dan bencana.  Selaras dengan sajak-sajak yang ditulis oleh Ronggowarsito dalam bentuk tembang “Sinom” di “Serat Kalatida”.
Amenangi jaman edan,
Ewuh aya ing pambudi,
Melu edan nora tahan,
Yen tan melu anglakoni,
Boya kaduman melik,
Kaliren wekasanipun,
Dilalah karsa Allah,
Begja-begjane kang lali,
Luwih begja kang eling lawan waspada.
Yang berarti hidup di dalam zaman gila ini, memang sangat sulit. Akan mengikuti zaman tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya zaman, tidak mendapat apapun juga. Akhirnya hidup menjadi menderita dan kelaparan dan hal tersebut sebenarnya sudah menjadi kehendak Allah. Orang yang beruntung dan bahagia itu orang yang lupa, tetapi ada yang lebih beruntung dan bahagia lagi, yaitu orang yang selalu ingat dan waspada.
            Gelombang bencana yang selalu datang, yang seakan menjadi kado ulang tahun yang manis di tiap tahunnya. Ketika hukum dan dasar negara digoyahkan, maka hancurnya suatu negara tinggal menunggu waktu saja. Salah satu permasalahan besar bangsa ini yaitu masih menjamurnya kasus-kasus korupsi baik secara sektoral maupun struktural. Para aktor dan aktris korupsi adalah para pejabat negara (eksekutif, legislatif, yudikatif), pegawai negeri (pusat dan daerah), pegawai swasta, pengusaha, dan masyarakat umum. Korupsi yang semakin menancapkan taring bisanya di daerah semenjak keran otonomi daerah dibuka pada masa pemerintahan Presiden Habibie. Kasus korupsi pada masa pemerintahan Orde Baru berpusat di kalangan Istana dan segelintir elite politik serta para pengusaha yang diungkap sebagai KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Akibat KKN ini, Soeharto pun lengser dari kursi empuknya, yang kemudian dijiplak dengan cepat oleh daerah.
            Di awal tahun ini banyak kasus-kasus korupsi yang muncul dipermukaan. Hal ini ditandai dengan hampir setiap pekannya ada permintaan izin pemeriksaan terhadap kepala daerah sebagai tersangka dan surat penonaktifan sementara kepala daerah. Peristiwa tersebut menjadikan tamparan keras kepada Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. Sebenarnya tujuan otonomi daerah ialah mengurangi campur tangan kekuasaan kewenangan dari pusat ke daerah. Disamping itu dengan otonomi daerah dapat memunculkan pusat-pusat pertumbuhan baru secara kewilayahan di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain sebagainya. Kenyataanya pertumbuhan ekonomi di daerah ternyata masih terkonsentrasi di beberapa daerah saja, yang mempunyai kualitas dan kuantitas sumber daya alam dan sumber daya manusia yang baik. Ketidakpaduan antara peraturan perundangan nasional dengan peraturan daerah juga membumbui permasalahan ini.
            Salah satu penyebab menjamurnya korupsi di daerah yaitu karena sistem pilkada yang memicu biaya pilkada membesar. Menurut Indonesia Corruption Wach (ICW), banyaknya kepala daerah yang terjerat kasus korupsi menandakan kualitas demokrasi memburuk dan dalam pilkada tersebut juga melahirkan pejabat negara yang buruk pula. Sumber utamanya adalah dari partai politik yang salah dalam perekrutan calon yang diusungnya. Hal tersebut dapat dikatakan partai politik masih melestarikan tradisi politik uang dalam mengusung calonnya.
            Jalan keluar dari menjamurnya kasus korupsi di daerah yang ditawarkan saat ini adalah mengubah aturan pilkada, yang kembali dipilih oleh DPRD, bukan dipilih secara langsung oleh rakyat. Perumusan dan perenegakan hukum juga merupakan salah satu alat yang penting. Selain itu, yang paling vital yaitu setiap pemimpin harus memiliki dan bisa mencerminkan nilai-nilai kepemimpinan seperti, sikap jujur, integritas, tanggung jawab, visioner, profesional, cerdas, dan lain sebagainya. Diimbangi dengan selalu eling lan waspada atau “ingat/ sadar” dan “waspada”. Selalu ingat kepada  Sang Maha Pencipta dan selalu waspada disetiap perbuatan. Hal tersebut merupakan obat yang paling mujarab untuk menangkal penyakit-penyakit di “zaman edan” ini.

Instagramku